Kebiasaan untuk mencari resep-resep baru di internet dan mempraktekannya sendiri sepertinya dulu dimulai ketika saya menemukan JTT, sebuah blog masakan yang menurut saya super detail dalam menjelaskan tahapan-tahapan memasak. Saya memang sangat pemula dalam bidang masak-memasak, keahlian saya dalam memasakpun hanya berdasarkan ingatan saya tentang bagaimana mama mengolah makanan untuk kami dirumah karena dulu ketika masih tinggal dirumah Pekanbaru saya sering kali enggan bila diminta untuk membantu didapur. Alhasil, hanya sedikit variasi masakan yang bisa saya olah. Awal mencoba untuk masak sendiri kost-kostan pun, mama bolak-balik saya repotkan karena harus menerima telefon saya untuk menjawab pertanyaan sepele seperti "bawangnya dipake berapa biji mam??" atau "ini numis bumbunya berapa lama ma?? nanti kalo udah matang tandanya gimana???". Tidak jarang juga saya dulu malah kebingungan dengan instruksi-instruksi yang diberikan mama. Meski hingga saat ini pun masih banyak olahan masakan yang belum dapat saya lakukan namun kalau mengingat saat itu, saya menjadi bersyukur bahwa meskipun saya terlambat untuk belajar masak, setidaknya saya tidak begitu terlambat (ehh.. bukannya tidak ada kata terlambat untuk belajar??) :)).
Senin, 03 Agustus 2015
Terjebak dalam Kata Autis, Lelucon (TAK) Lucu yang Membunuh
Sudah jamak memang kita sering mendengarkan kata autis yang dijadikan guyonan atau cara untuk menyindir orang-orang disekitar kita yang terlalu sibuk dengan gadget dan dunianya sendiri. Bahkan saking seringnya pun kata-kata itu sudah dianggap lumrah dan mungkin bagi sebagian orang bukan lagi hal yang dianggap menyakitkan bagi orang yang menerima sindiran tersebut. Kalau saja ada yang tersinggung atas kata-kata itu, maka tak jarang juga ia akan mendapatkan sindiran balik kalau ia bukan orang yang bisa diajak bercanda atau ga gaul!!! Ehhh.. entahlah apa memang bahasa-bahasa gaul seperti itu adanya.. Hemmm.. sulit memang jika kita sudah berhadapan dengan opini publik yang terkadang sering merancukan sebuah kebenaran. Permasalahannya kemudian seperti yang kita ketahui bahwa bahasa-bahasa gaul itu bersifat sporadis dikalangan masyarakat belakangan ini!! Hehhh.. siapa yang tahu kelak anda dan saya sama sekali tidak tahu tentang arti sebenarnya dari kata autis itu??
Selasa, 28 Juli 2015
Susahnya Menjadi Seorang Pendengar (CURHAT)
Saya sering senyum-senyum sendiri ketika mengingat alasan saya dalam memilih jurusan psikologi saat masuk perguruan tinggi dulu (sekali). Saya bener-bener tidak punya alasan yang benar untuk menjadi mahasiswa psikologi. Betapa tidak, alasan saya yang terkuat saat itu disamping menghindari pelajaran-pelajaran eksakta yang sukses membuat pusing siang malam (setelah saya belajar psikologi ternyata oh ternyata pelajaran-pelajaran seperti ini malah bolak-balik muncul hampir disemua mata kuliah!!! #nangiskejer) ialah karena saya merasa yakin bahwa saya adalah seorang pendengar yang baik. ihhh kok pede banget sih?? iyaa dong... hahahaa.. Sebenarnya kalau boleh mengkambing hitamkan, keyakinan sesat itu karena "ulah" sahabat-sahabat saya ketika masa-masa sekolah dulu (dan semakin diperparah oleh sikap gampang "ge-er" saya memang sudah dalam taraf akut). Mereka sering mengatakan saya adalah orang yang asyik untuk diajak curhat. Belakangan saya mulai berfikir, mungkin saja alasan mereka gak sengaja mengatakan itu karena saat itu mereka memang kepepet dan butuh seseorang yang bisa dijadikan tong sampah tempat berbagi.
Senin, 27 Juli 2015
Pertanyaan Kapan Kawin, Hanya Sekedar Basa-basi saja kah???
"Everything you need, will come to you at the perfect time" (anonymous)
Sudah cukup lama keluarga besar dari pihak bapak saya tidak berkumpul bersama-sama. Sejak kedua opung saya meninggal dunia, alasan berkunjung kekampung halaman memang semakin sedikit. Maklum saja, biaya yang harus dikeluarkan oleh masing-masing keluarga untuk membawa anak-istrinya menikmati indahnya pemandangan dan kehidupan dikampung halaman tidak sedikit bahkan mungkin bisa membuat para orang tua berteriak histeris kala mengkalkulasi jumlah pengeluaran selama dikampung halaman. Meskipun demikian, bapak dan mama saya, mungkin banyak lagi keluarga-keluarga batak lainnya, merasa tidak pernah jera untuk mudik.
Langganan:
Postingan (Atom)
